Artikel

Memaknai Kebudayaan Di Sekolah

Memaknai Kebudayaan di Sekolah

Penulis: Hj. Yenni Agustina, S.Ag

Guru pada MAN 1 (Model) Lubuklinggau

Pendidikan menjadi bagian integral dari suatu kebudayaan dan menjadi proses pembudayaan manusia. Oleh karena itu, pendidikan harus digunakan untuk melakukan transformasi nilai- nilai budaya bangsa dalam rangka mengembangkan budaya Indonesia (Lanlan Muhria, 2016). Kita tahu bahwa  pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan, dan pendidikan tidak dapat dari kebudayaan. Keduanya merupakan gejala dan faktor pelengkap dan penting dalam kehidupan manusia. Namun pendidikan sekarang ini menghadapi begitu banyak  tantangan yang berusaha mengancam keberadaannya. Tantangan tersebut merupakan bagian dari sekian banyak tantangan global yang memerangi kebudayaan. Tantangan pertama ialah kebudayaan barat yang banyak bertolah belakang dengan budaya timur. Lalu timbul bahaya imitasi buta dari pelaku kebudayaan yang terus diserang hingga menjadi  degenerasi karena tidak mampu mencerna unsur-unsur yang masuk secara terus menerus . Belum lagi kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin kian pesat. Yang mau tidak mau dari waktu ke waktu mengalami perubahan mulai dari makna sampai konsep yang juga  akan mengubah dan menggeser dari perkembangan budaya klasik menjadi modern.

Agar kebudayaan Nusantara tidak hilang/pudar dari peserta didikterutama generasi saat ini yang cenderung mengalami gagap budaya. Perlu transformasi nilai- nilai budaya bangsa yang dimulai dari sekolah, dan peran guru sangat penting. Karena guru memiliki posisi strategis dalam pendidikan, maka tuntutan terhadap guru yang berkualitas dan profesional merupakan suatu keniscayaan yagn tidak bisa dihindari. Lebih-lebih setelah lahirnya UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, tuntutan profesionalisme itu semakin kuat. Persoalannya, untuk mendapatkan guru yang profesional dan berkualitas sudah barang tentu mustahil dapat terjadi dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan penyiapan dan pengembangannya secara terus-menerus, terencana dan berkesinambungan. Upaya pengembangan itu memang merupakan suatu keharusan, mengingat tuntutan standar kualitas serta kebutuhan di lapangan juga terus-menerus mengalami perubahan dan perkembangan seiring dengan pesatnya laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi di era global ini. Dan tentu saja tantangan terbesar dalam pengembangan penguatan kebudayaan ke dalam proses belajar mengajar tidaklah mudah.

Dan menurut pemikiran Berkowitz, yang dikutip oleh Elkind dan Sweet ( 2004 ) serta Samani (2011) yang menyatakan bahwa: transformasi budaya dan perikehidupan sekolah, dirasakan lebih efektif daripada mengubah kurikulum dengan menambahkan materi pendidikan karakter dalam muatan kurikulum. Maka Guru dalam pembelajaran dikelas guru mesti menanamkan dan mengenalkan budaya Indonesia kepada peserta didik mulai sejak dini. Sehingga pemahaman siswa tentang budaya tidak diredusir oleh semata produk dan komoditas yang harus dijual dan dipertontonkan saja dan memaknai budaya tidak hanya sebatas mengenalkan keragaman budaya sebagai sesuatu yang harus dihargai dan dikonservasi, sesuatu yang sakral. Tetapi memaknai konsepsional budaya sebagai sesuatu yang progresif, yakni seluruh bangunan kebudayaan Nusantara merupakan pendorong untuk meraih sekaligus mengubah masa depan Indonesia yang lebih baik.

Dalam pembangunan budaya nasional, guru perlu menciptakan suasana yang mendorong tumbuh dan berkembangnya sikap serta pengaruh budaya asing yang bertentangan dengan nilai budaya bangsa dilhilangkan karena ini akan dapat merusak persatuan dan kesatuan baik di masyarakat maupun di  bangsa. Karena menurut Daoed Joesoef, budaya merupakan sistem nilai dan ide yang dihayati oleh sekelompok manusia di suatu lingkungan hidup tertentu di suatu kurun tertentu . Sementara kebudayaan diartikan sebagai semua hal yang terkit dengan budaya. Dalam konteksi tinjauan budaya dilihat dari tiga aspek, yaitu pertama, budaya yang universal yaitu berkaitan niliai-nilai universal yang berlaku di mana saja yang berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan masyarakat dan ilmu pengetahuan/teknologi. Kedua, budaya nasional, yaitu nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Indonesia secara nasional. Ketiga, budaya local yang eksis dalam kehidupan masayarakat setempat. Ketiga aspek ini terkait erat dengan sistem pendidikan sebagai wahana dan proses pewarisan budaya. (Joesoef, 1982)

Dalam pembangunan budaya nasional, guru perlu menciptakan suasana yang mendorong tumbuh dan berkembangnya sikap kerja keras. Disiplin, sikap menghargai prestasi, berani bersaing, serta mampu menyesuaikan diri dan kreatif.Karena menurut Parsudi Suparlan disebut sebagai wakil dari golongan intepretivisme yang mendefenisikan budaya atau kebudayaan merupakan seperangkat kemampuan yang dimiliki manusia sebagai makhluk bio-sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi kerangka landasan dalam mewujudkan perilaku. Dalam pengertian ini kebudayaan merupakan mekanisme kontrol bagi semua perilaku manusia. Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan, petunjuk, resep, rencana, dan strategi, yang terdiri atas serangkaian model kognitif yang digunakan secara selektif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya. (Parsudi suparlan, dalam Soerjani,M 1983 : 72).Selain itu perlu menumbuhkan budaya menghormati dan menghargai orang yang lebih tua, budaya belajar, budaya ingin maju, dan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perlu dikembangkan pranata sosial yang dapat mendukung proses pemantapan budaya bangsamenumbuhkan kemampuan untuk memahami dan mengamalkan nilai budaya daerah yang luhur dan beradab serta menyerap nilai budaya asing yang positif untuk memperkaya budaya bangsa. Selain itu guru perlu menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap kebudayaannya. Agar rasa cinta dan bangga terhadap kebudayaannya tidak menjadi berlebihan seperti tidak menyukai kebudayaan orang lain atau menghina kebudayaan orang lain, guru juga harus mengajarkan dan memberitahu agar sikap feodal, sikap eksekutif, dan paham kedaerahan yang sempit serta pengaruh budaya asing yang bertentangan dengan nilai budaya bangsa dihilangkan karena ini akan dapat merusak persatuan dan kesatuan baik di masyarakat maupun di  bangsa. (Wulandhary, 2012)

 

Namum pendidikan formal tidak dapat diharapkan menanggung transmisi keseluruhan kebudayaan bangsa. Masyarakat masih akan tetap memegang fungsi yang penting dalam pendidikan tranmisi kebudayaan. Pendidikan norma-norma, sikap adat istiadat, keterampilan sosial dan lain-lain banyak diperoleh anak terutama berkat pengalamannya dalam pergaulannya dengan anggota keluarga, teman-teman sepermainan dan kelompok primer lainnya, bukan di sekolah. Semuanya ini akan menjadi tanggungjawab pihak pendidik dalam hal memberikan ilmu dan pengetahuan kepada mereka sebagai bekal dalam menghadapi era globalisasi dimasa yang akan datang. Maka sebabaiknya kita kenali ciri-ciri dari kebudayaan (Wulandhary, 2012):

 

  1. Kebudayaan adalah produk manusia. Artinya keudayaan adalah ciptaan manusia bukan ciptaan Tuhan atau dewa. Manusia adalah pelaku sejarah dan kebudayaannya.
  2. Kebudayaan selalu bersifat sosial. Artinya kebudayaan tidak pernah dihasilkan secara individual, melainkan oleh manusia secara bersama. Kebudayaan adalah suatu karya bersama bukan karya perorangan.
  3. Kebudayaan diteruskan lewat proses belajar. Artinya kebudayaan itu diwariskan dari generasi yang satu kegenerasi yang lainnya melalui suatu proses belajar. Kebudayaan berkembang dari waktu ke waktu karena kemampuan belajar manusia Tampak disini bahwa kebudayaan itu selalu bersifat historis, artinya proses yang selalu berkembang.
  4. Kebudayaan bersifat simbolik, sebab kebudayaan bersifat ekspresi, ungkapan kehadiran manusia. Suatu ekspresi manusia, kebudayaan ini tidak sama dengan manusia. Kebudayaan disebut simbolik, sebab mengekspresikan manusia dan segala upayanya untuk mewujudkan dirinya.
  5. Kebudayaan adalah sistem pemenuhan berbagai kebutuhan manusia. Tidak seperti hewan, manusia memenuhi segala kebutuhannya dengan cara-cara yang beradab, atau dengan cara-cara manusiawi.

 

Menurut Kerber dan Smith (imran Manan, 1989) menyebutkan ada 6 fungsi utama kebudayaan dalam kehidupan manusia yaitu :

a. Penerus keturunan dan pengasuh anak

b. Pengembangan kehidupan ekonomi

c. Transmisi budaya

d. Meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

e. Pengendalian sosial

f. Rekreasi

Proses pembudayaan (enkulturasi) adalah upaya membentuk perilaku dan sikap yang bersinergi dengan pengetahuan sehingga setiap individu dapat memainkan perannya masing-masing. Dengan demikian, ukuran keberhasilan pembelajaran dalam konsep enkulturasi adalah perubahan perilaku siswa. Hal ini sejalan dengan 4 (empat) pilar pendidikan yang dikemukakan oleh Unesco, Belajar bukan hanya untuk tahu (to know), tetapi juga menggiring siswa untuk dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh secara langsung dalam kehidupan nyata (to do), belajar untuk membangun jati diri (to be), dan membentuk sikap hidup dalam kebersamaan yang harmoni (to live together). Sehubungan dengan itu, pendidikan merupakan upaya untuk membudayakan seseorang sehingga menjadi anggota masyarakat yang aktif, pendidikan bertujuan membentuk manusia agar dapat menunjukkan perilakunya sebagai makhluk yang berbudaya yang mampu bersosialisasi dalam masyarakatnya. Seharusnya, orang-orang berpendidikan (berilmu) akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, mampu mempertahankan kelangsungan hidup, baik secara pribadi, kelompok, maupun masyarakat secara keseluruhan. Untuk mewujudkan hal tersebut, pembelajaran harus berlangsung secara konstruktivis (developmental) yang didasari oleh pemikiran bahwa setiap individu peserta didik merupakan bibit potensial yang mampu berkembang secara mandiri. Tugas pendidikan adalah memotivasi agar setiap anak mengenali potensinya sedini mungkin dan menyediakan pelayanan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki serta mengarahkan pada persiapan menghadapi tantangan ke depan. Pendidikan mengarah pada pembentukan karakter, performa yang konkrit (observable) yang berkembang dalam tiga ranah kemampuan, yaitu: kognitif, psikomotor, dan afektif. Pengembangan kemampuan pada ketiga ranah tersebut dilihat sebagai suatu kesatuan yang saling melengkapi (Drs. Zulfikri Anas, 2011).

 

Pendidikan merupakan kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia. Bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Pendidikan telah ada sepanjang peradaban manusia. Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya. Tiada kehidupan masyarakat tanapa adanya kegiatan pendidikan (Wulandhary, 2012). Jangan sampai di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang sudah modern, masyarakat meninggalkan salah satu nilai-nilai leluhur nenek moyang yang disebut kebudayaaan. Dimana seiring dengan perkembangan zaman dan minimnnya sosialisasi kebudayaan nilai-nilai kearifan lokal kian terkikis. Namun harapannya dengan menguatkan pendidikan dapat memajukan kebudayaan.

 

Referensi

Drs. Zulfikri Anas, M. (2011). PENDEKATAN BRAIN BASED LEARNING DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI. pendidikan-nilai-budaya-revisi-proceeding3.pdf (p. 8). Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Diknas .

 

Joesoef, D. (1982). Aspek-Aspek Kebudayaan yang Harus Dikuasai Guru, dalam Majalah Kebudayaan, no. 1 ,. Majalah Kebudayaan.

Lanlan Muhria, 2. N. (2016, Nov 27). https://www.lyceum.id/sekolah-sebagai-pusat-kebudayaan/)Oleh Lanlan Muhria, 27 Nov 2016. Retrieved April Minggu, 2018, from sekolah-sebagai-pusat-kebudayaan: https://www.lyceum.id/sekolah-sebagai-pusat-kebudayaan/

 

Wulandhary, R. ( 2012, mei jum'at). wulandhary. Retrieved april minggu, 2018, from Pengaruh Sosial Budaya Terhadap Pendidikan : http://wulandhary.blogspot.co.id/2012/05/pengaruh-sosial-budaya-terhadap.html

Artikel lainnya

Bekal Pemuda Masa Kini Dalam Menghadapi Arus Globalisasi
Senin, 17 April 2017  19:51 WIB (385 Dibaca)

Kirim Komentar

Aturan & Prosedur Pengiriman Komentar
  1. Data yang diisikan pada kolom identitas diisi dengan benar.
  2. Isi komentar yang disampaikan harus memperhatikan etika berbahasa.
  3. Dilarang menggunakan kata-kata/kalimat yang mengandung SARA, hinaan, porno, kotor di dalam isi komentar.
  4. Sebelum ditampilkan, komentar yang terkirim akan diseleksi oleh redaksi.
  5. Redaksi tidak akan menampilkan komentar yang mengandung SARA, hinaan, porno, kotor di dalam isi komentar.
Nama Lengkap
Email
Isi Pesan
Kode

Kalender Arsip

<< April 2018 >>
MingSenSelRabKamJumSab
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930     

Kontak

MA Negeri 1 Lubuklinggau
Jl. Jend. Sudirman No. 01 Rt. 1 Kelurahan Kali Serayu Kecamatan Lubuklinggau Utara II Kota Lubuklinggau SUmatera Selatan.
(0733) 322144